Pada akhirnya kita memilih untuk tidak dimiliki siapa-siapa, tidak berharap untuk punya seperti yang mereka punya. Juga naifnya kita berharap untuk tidak saling menyapa dalam waktu yang lama, tidak saling berjumpa untuk momen apapun.
Itu bagian dari komitmen? Mungkin saja.
Aku tidak berharap kamu betah dengan janjimu itu. Lantas aku bagaimana? Aku bagian dari perjanjian kita.
"Perjanjian"? ya begitu, memang ada istilah yang lebih baik?
Waktu kamu bilang "Sudah", kita sama-sama paham artinya. Bahwa kamu, mereka, kita, berarti harus dimasukan jadi satu ke dalam Boks berlabel "masa lalu". Di "peti es" kan untuk kemudian kamu menoleh kekanan, sedangkan aku harus sebaliknya. Kamu ke utara, aku ke selatan. Bahkan jejakmupun tidak boleh aku pandang, khawatir suatu waktu salah satu berubah pikiran dan balik mengikuti arah.
Namun tidak bisa ditolak, ada detik-detik tertentu yang kadang-kadang berjalan begitu lambat, membuatku sempat memikirkanmu. Kalau sudah begitu bagaimana? ya dinikmati saja, kalau masih boleh tentunya :)
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Senin, 14 Mei 2012
Senin, 12 Maret 2012
Sulung
Si sulung merenung, wajahnya jadi murung. Lesung pipinya tak lagi membuatnya terlihat manis. Sudah berhari-hari si sulung seperti itu. Hari ini seharusnya sulung senang, karena dia berulang tahun ke 17.
Tak seorangpun di rumah paham kenapa Sulung murung, tidak si bungsu bahkan Emak. Tapi Abah paham kenapa si sulung gelisah. Dipanggilnya si sulung disatu sore , "Aku paham keinginanmu, pergilah kalau ingin pergi, merantaulah kemana kau suka".
"Tidak Abah, berada dirumah sepertinya lebih baik", bantah si sulung halus. Dia paham bahwa tanggungjawab merawat Abah Emak yang sudah tua renta dirumah merupakan tanggungjawabnya. Terlebih si bungsu juga ingin bersekolah ke sebuah SMP favorit di kota. Lantas siapa nanti yang menggembalakan ternak mereka di desa? menjaga Abah Emak dirumah? cukuplah dua hal itu memberatkan keinginan sulung untuk merantau.
Tapi Abah paham, ditatapnya mata sulung dalam-dalam. Sulung tertunduk, tak berani membalas tatapan Abah yang menghujam ragu-ragunya. Cukup dengan itu akhirnya sulung meng-iya-kan tatapan Abah.
Bahwa sebuah tatapan dan anggukan kecil hari itu menjadi dialog yang sangat dalam, seolah film hitam putih bisu berdurasi seumur hidup bagi si sulung.
Akhirnya sulung pergi, membawa si bungsu merantau bersamanya. Dilepas lirih air mata Emak dan sekali lagi tatap tajam Abah.
Sulung berjalan lurus, luruuus saja.
Tak sedikitpun Ia menoleh sampai tiba dikejauhan dimana gubuk mereka hanya terlihat sebagai sebuah kotak kecil ditengah ladang. Dimana Emak Abah hanya terlihat sebagai bayangan yang menjejali pikiran dan menggenang jadi air mata.
Sulung berjalan terus, berjanji hanya kembali kalau janjinya sudah merekah sehingga cukup indah untuk disembahkan pada Emak Abah di kampung.
Tak seorangpun di rumah paham kenapa Sulung murung, tidak si bungsu bahkan Emak. Tapi Abah paham kenapa si sulung gelisah. Dipanggilnya si sulung disatu sore , "Aku paham keinginanmu, pergilah kalau ingin pergi, merantaulah kemana kau suka".
"Tidak Abah, berada dirumah sepertinya lebih baik", bantah si sulung halus. Dia paham bahwa tanggungjawab merawat Abah Emak yang sudah tua renta dirumah merupakan tanggungjawabnya. Terlebih si bungsu juga ingin bersekolah ke sebuah SMP favorit di kota. Lantas siapa nanti yang menggembalakan ternak mereka di desa? menjaga Abah Emak dirumah? cukuplah dua hal itu memberatkan keinginan sulung untuk merantau.
Tapi Abah paham, ditatapnya mata sulung dalam-dalam. Sulung tertunduk, tak berani membalas tatapan Abah yang menghujam ragu-ragunya. Cukup dengan itu akhirnya sulung meng-iya-kan tatapan Abah.
Bahwa sebuah tatapan dan anggukan kecil hari itu menjadi dialog yang sangat dalam, seolah film hitam putih bisu berdurasi seumur hidup bagi si sulung.
Akhirnya sulung pergi, membawa si bungsu merantau bersamanya. Dilepas lirih air mata Emak dan sekali lagi tatap tajam Abah.
Sulung berjalan lurus, luruuus saja.
Tak sedikitpun Ia menoleh sampai tiba dikejauhan dimana gubuk mereka hanya terlihat sebagai sebuah kotak kecil ditengah ladang. Dimana Emak Abah hanya terlihat sebagai bayangan yang menjejali pikiran dan menggenang jadi air mata.
Sulung berjalan terus, berjanji hanya kembali kalau janjinya sudah merekah sehingga cukup indah untuk disembahkan pada Emak Abah di kampung.
Selasa, 07 Februari 2012
Berpisah
Bandara ini mendekatkan dua kota yang berjauhan, sayang bandara ini juga akan menjauhkan dua hati yang berdekatan selama ini.
Pukul 06.15 nanti pesawatku datang, aku harus berangkat maaf. Bukan maksudku sebenarnya meninggalkanmu disaat semua janji yang kita ukir bersama belum tercapai. Tapi toh life must go on, aku harus lompat ke fase baru hidupku. Tidak mungkin stagnan terbuai cerita manis dimana kita berangan-angan akan terus selalu bersama, apapun yang terjadi !.
Pukul 06.15 nanti pesawatku datang, aku harus berangkat maaf. Bukan maksudku sebenarnya meninggalkanmu disaat semua janji yang kita ukir bersama belum tercapai. Tapi toh life must go on, aku harus lompat ke fase baru hidupku. Tidak mungkin stagnan terbuai cerita manis dimana kita berangan-angan akan terus selalu bersama, apapun yang terjadi !.
Semua kenangan di kota ini tidak akan aku lupakan. Ada susah senang, canda dan haru, tertawa dan menangis, aku dan kamu, semua aku torehkan selama 3 tahun masa studyku di kotamu.
Sebenarnya jauh hari aku mengikrarkan diri tidak ingin terjebak pada semua hal yang ujungnya akan memberatkanku meninggalkan kota ini kelak. Bahwa aku sadar sekali 3 tahun disini hanya untuk berkuliah, itu saja. Toh aku berasal dari tempat yang jauh dan tidak terbiasa untuk berdiam bertahun-tahun ditempat yang sama.
Sebenarnya jauh hari aku mengikrarkan diri tidak ingin terjebak pada semua hal yang ujungnya akan memberatkanku meninggalkan kota ini kelak. Bahwa aku sadar sekali 3 tahun disini hanya untuk berkuliah, itu saja. Toh aku berasal dari tempat yang jauh dan tidak terbiasa untuk berdiam bertahun-tahun ditempat yang sama.
Tapi pesonamu terlalu kuat untukku tolak, salah siapa kalau sekarang kamu menyesal bertemu denganku? kalau jadinya sekarang kamu berat melepasku meskipun lima menit lagi segera aku harus masuk ke bandara.
Salah siapa kalau akhirnya akupun tidak bisa berkata tidak pada tawaran untuk mencicipi petualangan-petualangan baru diluar sana? toh aku tidak pernah berjanji akan tinggal selamanya disini.
Salah siapa kalau akhirnya akupun tidak bisa berkata tidak pada tawaran untuk mencicipi petualangan-petualangan baru diluar sana? toh aku tidak pernah berjanji akan tinggal selamanya disini.
Jadi lepaskan dekapanmu sekarang, biarkan hari ini aku lepas bersama bingkai angan-angan manismu.
Selamat tinggal, kotamu.
Selamat tinggal, kotamu.
Senin, 30 Januari 2012
Selamat Tidur
Kalau aku bilang "Selamat Tidur" nanti, itu artinya aku berharap kamu dapat mimpi yang paling indah saat terlelap. Kalau aku tidak bilang "Selamat Tidur" mungkin aku sedang berharap, atau memohon bahkan supaya kamu bisa menemaniku berbincang sampai pagi menjelang, walaupun cuma diujung telepon.
Sayang berkali-kali aku telepon nomor kamu tak juga ada jawaban, hemm barangkali kamu sudah terlelap sekarang. Maka bintang dan bulan malam ini rasanya lebih tepat untuk dijadikan teman berbagi. Lihat yang sedang bersedih, pastinya tidak secerah bintang-bintang malam ini. Atau mungkin jadinya seperti bulan malam ini, yang kebetulan sedang gelap tertutup awan mendung. Sinarnya yang cerah terhalangi sehingga pancarannya tak maksimal terbagi.
Tapi mentari tak lama terbit, menantang hari ini dari ufuk timurnya. Ahh, sudah pagi ternyata. Segelas kopi yang baru setengah ku seruput tadipun sudah mendingin. Mungkin cukup sampai setengah empat pagi aku menahan kantuk. Perlu rasanya badan ini beristirahat, semoga nanti bangun pagi aku dapati sms "Selamat Pagi" dari kamu lengkap beserta permohonan maaf karena tidak bisa mengangkat telponku malam ini.
"Selamat Tiduur", untukku sendiri :)
#Ditulis ditengah-tengah kegalauan mengerjakan Tugas Akhir...
:)
:)
Kamis, 26 Januari 2012
Kalau Itu Kamu
Kalau itu kamu, maka tidak sia-sia hari ini kubiarkan terik matahari menyengatku. Sampai berpeluh membasahi baju paling rapi yang aku punya, agar angan-anganku tentang kamu terbayar lunas. Sebatas hari ini aku menunggu kamu yang biasanya hanya jadi pemanis hari di ujung telpon genggam, tanpa pernah bertemu rupa.
Dan sms darimu aku baca berulangkali, sambil mataku selalu awas melihat sekeliling. Kalau saja ada yang cocok dengan petunjuk yang kamu berikan : Rok merah jambu sebatas lutut, kemeja biru muda dan kacamata minus.
Olala, akhirnya aku lihat selintas sosok yang sesuai dengan ciri. Wanita muda sekitar 25 tahunan baru turun dari kereta, cocok dengan foto yang aku pandangi tiap hari di akun facebookmu, yang dari situ kita bertukar nomor telepon sampai akhirnya janjian untuk kopi darat hari ini di kotaku.
Aku coba telpon, tersambung!!
Ahh makin besar saja angan-anganku kalau itu benar kamu.
Oh tapi tidak, dari reaksinya kelihatannya itu bukan kamu. Lalu aku lirik di pojok baris kursi peron. Wanita gemuk ber make-up norak dengan rok merah jambu yang tidak serasi dengan sepatu high heelsnya mengangkat telpon dengan senangnya. Akupun segera bisa membaca situasi.
Sambil menepuk jidat aku bergumam "Alamak aku tertipu!"
Tidak seperti yang aku lihat di akun facebook. Maka segera aku matikan telepon, bergegas pergi dan serasa ingin muntab didunia maya.
![]() |
| Ilustrasi |
#Makanya jangan percaya dengan akun facebook..
Rabu, 25 Januari 2012
Februari
Ada bulir tetesan air di daun-daun, embun dijendela dan suhu yang membuatku masih betah menarik selimut tinggi-tinggi sebatas dagu. Sayang jam weker ini disiplin sekali membangunkanku. Kalau bukan karena jam weker ini pasti aku masih terlelap sekarang dan baru bangun ketika matahari sudah mulai menunduk.
Dari jendela kamar aku lihat gerimis masih terus mengguyur, membuatku berpikir ulang kalau ingin bangun dan beraktifitas. Terlebih ada yang membuatku malas untuk beraktifitas hari ini, bahwa ini februari membuatku sangat ingin meng-skip-kan bulan ini, kalau bisa tidur panjang saja dan baru bangun waktu maret, bisakah? kalau bisa aku ingin sekali, tunjukan caranya.
Tapi bukankah perjalanan kita tidak akan sampai ke Desember kalau tidak melalui februari? ahh jadi bersegeralah februari, terlalu banyak yang aku tidak bisa hapus. Ulang tahun, hari jadi, kado..Semuanya membekas, Oh tidak ini lebih dari sekedar membekas, ini menggores. Lebih sulit buat kamu aku tau, tapi akupun tidak bisa hidup dimasa lalu, kita hidup untuk hari ini dan besok. Maafkan dan terimakasih sudah jadi begitu super untuk ini.
Tapi bukankah perjalanan kita tidak akan sampai ke Desember kalau tidak melalui februari? ahh jadi bersegeralah februari, terlalu banyak yang aku tidak bisa hapus. Ulang tahun, hari jadi, kado..Semuanya membekas, Oh tidak ini lebih dari sekedar membekas, ini menggores. Lebih sulit buat kamu aku tau, tapi akupun tidak bisa hidup dimasa lalu, kita hidup untuk hari ini dan besok. Maafkan dan terimakasih sudah jadi begitu super untuk ini.
Hemm sayang Januari akan segera berakhir, lalu samar-samar februari menjalar. Sekilas itu nampak bayanganmu.
Senin, 26 Desember 2011
Angin
Karena mereka angin, melambai sepoi-sepoi. Melewati tiap helai rambutmu, mengibaskan rok merah jambumu sampai kamu tersipu malu. Mereka tidak terlihat, mengintipmu dari awan, menguntitmu di taman-taman. Angin datang, selintas menyejukan, tapi akan pergi akhirnya, Pasti. Mereka angin, datangnya menyejukan, tapi berlalu dengan cepat. :D
Minggu, 11 Desember 2011
Balas Penantianku
Riuh keramaian, semua perhatian tertuju kepada kita berdua. Sebaris kalimat paling berani aku pikir seumur hidupku baru saja aku ucapkan. Susah payah aku lafalkan dengan menahan nafas panjang, jantungku berdegup kencang saking takutnya, entah apa yang kupikirkan tapi baru tadi pagi aku putuskan untuk mengucapkannya. Ya, baru tadi pagi !! dan lebih gila aku membawa cukup massa sebagai saksinya, yang nanti kalau jawabanmu tak seperti harapku cukup untuk menjadi petaka, terima nasib diolok seumur hidup! Tak apa, aku justru ingin menunjukan keseriusanku dengan ini.
Ayo jawab, jangan kunci bibirmu itu.
Tidak perlu bahasa yang bertele-tele, cukup tunjukan dengan anggukan maka semua bisa menterjemahkan maksudmu. Tidak-tidak ini bisa lebih sederhana lagi!! cukup senyum kecil disudut bibir merahmu, pipi merona, wajah tersipu, maka aku tau jawabanmu.
Ayo jawab, aku sudah tak sanggup menahan lutut yang mendadak jadi lemas ini.
Minggu, 20 November 2011
Kisah
"Sayang banget ya dua tahun kalian pacaran harus putus gitu aja", kata seorang sahabat.
"Ia, dan lebih sayang lagi kebersamaan dua tahun harus berakhir karena masalah sepele", jawabku ketus.
"gg pengen balikan lagi?", tanyanya penuh selidik.
"terus putusan lagi?".
Setelah beberapa detik saling melirik kamipun tertawa, menertawai kisahku.
Keras Kepala
"Mbak kopinya satu lagi deh", sembari memberi isyarat dengan telunjuknya pada pelayan cafe.
Di mejanya terdapat sebuah laptop dan asbak lengkap dengan puluhan puntung rokok berserakan yang sangat menggangguku.
"Kamu udah berapa hari gg tidur?, istirahatlah dulu kesehatanmu itu lebih penting dari kerjaanmu ini" ujarku.
"Ahh sudahlah, justru kerjaan ini bagian hidupku" bantahnya sambil menyulut sepuntung rokok lagi.
"Hemm, harus aku hancurkan dengan apa keras kepalamu itu, Dik".
Di mejanya terdapat sebuah laptop dan asbak lengkap dengan puluhan puntung rokok berserakan yang sangat menggangguku.
"Kamu udah berapa hari gg tidur?, istirahatlah dulu kesehatanmu itu lebih penting dari kerjaanmu ini" ujarku.
"Ahh sudahlah, justru kerjaan ini bagian hidupku" bantahnya sambil menyulut sepuntung rokok lagi.
"Hemm, harus aku hancurkan dengan apa keras kepalamu itu, Dik".
Senin, 19 September 2011
Layang-layang
Ngejar kamu itu ibaratnya ngejar layang-layang putus. Aku udah punya layangan aku sendiri, tapi waktu liat layang-layang putus jadi pengen juga dapetin.
Waktu masih diatas, Kelihatan menarik banget untuk dikejar, akhirnya aku kejar. Dan nyatanya gg cuma aku yang kejar, sepanjang kamu melayang-layang bebas di udara ternyata udah banyak banget yang ngelirik, akhirnya dikejarlah beramai-ramai.
Jadi seru karena ini akhirnya menjadi tentang gengsi, harga diri dan petualangan.
Sepanjang kamu terjun bebas dari udara, tak peduli dimana tepatnya kordinat jatuhmu, aku belain buat ngejar kamu.
Lewatin semak belukar ya aku belain.
Kamu nyangkut digenteng rumah orang, tiang listrik ataupun sekedar nyangkut dipohon juga aku belain.
Bangga rasanya kalau bisa dapet layang-layang putus ini, sampai akhirnya ketika menggenggam si layang-layang ini aku baru sadar kalau kepunyaanku lebih bagus, setelah sekian banyak energi yang terbuang..
____________________________________________________________
#Didedikasikan untuk siapa saja yang senang bermain layang-layang.
Rabu, 14 September 2011
Sepeda Angin
Dengan sepeda angin tua ini aku mengayuh tiap meter jarak antara rumahku dan rumahmu, dulu waktu kita masih sekelas setiap pukul setengah enam pagi aku sudah memastikan diri hadir didepan rumahmu, cukup dengan membunyikan bel sepeda ini :
kriiiing..
Maka sudah cukup untuk memberitahumu kalau aku sedang menunggumu diluar pagar rumah untuk pergi berangkat bersama. Semenit kemudian kamu akan keluar rumah dengan terburu-buru, salim dan berpamitan dengan Ayah Ibumu kemudian menyambar sepeda anginmu, mengayuhnya kuat, daaan ... kitapun pagi ini kembali berlomba untuk sampai ke sekolah lebih dulu, selalu seperti ini setiap pagi. Selalu semenyenangkan ini :)
Lalu sepanjang jalan kesekolah itu kita banyak bergurau, aku tau ketika itu kamu sedang mencoba mengalihkan perhatianku, karena sudah pasti akulah yang akan finish digerbang sekolah lebih dulu. Tapi tak apa, aku suka mendengarkan gurauanmu tentang Pak Dama, guru PPKN kita yang kalau mengajar malah lebih banyak berkhutbah, atau ejekanmu soal Rika, teman sebangkumu yang dengan semena-mena kamu salin buku PRnya setiap hari kalau sedang malas mengerjakan tugas.
Maka kalau sudah sekitar seratus meter jaraknya dari gerbang sekolah kamu akan kembali mengayuh kuat sepedamu, sambil tertawa licik karena merasa menang dan berhasil mengerjaiku. Tak apa, aku biarkan saja, karena dari belakang aku bisa melihat rambutmu tergerai angin, mengikuti aromamu dari belakang dan siangnya aku bisa pura-pura menantangmu lagi.
Dikelas kamu duduk dua meja di depanku, sengaja aku pilih bangku dibelakangmu agar kamu tidak sadar bahwa setiap saat aku selalu mencuri-curi kesempatan untuk memandangimu. Sampai waktu pulang tiba kita mengayuh sepeda bersama lagi.
Pagi ini seperti biasa aku menjemputmu diluar pagar, kubunyikan bel berkali-kali, tapi anehnya hari ini kamu tidak muncul. Justru Ibumu yang menghampiri, "Ayu biar Ibu antar saja ke sekolah Nak Fadhli".
Maka hari ini dikelas aku lewati tanpa keceriaan sama sekali, bangkumu yang kali ini kosong mengganggu konsentrasiku. Saat jam istirahat aku melihatmu diantar Ayah Ibumu dikantor kepala sekolah, Ayahmu membungkukkan badan sedikit didepan pintu sambil menjabat tangan kepala sekolah, dari jendela kelas aku melihat Bu Muti, Wali Kelas kita mengusap-ngusap rambutmu sambil menasehati sesuatu, kamu menangis terisak-isak, terlihat seperti momen perpisahan.
Sepulang sekolah diburu rasa penasaran tentang keadaanmu aku memacu sepeda sekuat mungkin berniat untuk menjengukmu, tapi yang kudapati rumahmu kosong, dari tetanggamu aku tau bahwa Ayahmu pindah karena ikut bekerja dengan majikannya yang membuka usaha gudang beras di pasar dekat kota.
Maka hari ini sepertinya ditakdirkan jadi hari perpisahan kita.
Pun hari-hari berikutnya terasa seperti penyiksaan, karena sepeda angin tua ini seolah memaksaku mengayuh hari mengejarmu, setiap hari.
Pun hari-hari berikutnya terasa seperti penyiksaan, karena sepeda angin tua ini seolah memaksaku mengayuh hari mengejarmu, setiap hari.
____________________________________________________________
#didedikasikan untuk siapa saja yang sedang menyimpan perasaan, ataupun yang menikmati setiap detik mencuri-curi pandang terhadap orang terkasih.
Senin, 29 Agustus 2011
Rindu
Barusan itu adalah saat aku merasa sangat dekat denganmu setelah sekian lama. Di ganggang telepon kamu menyapa "halo", terdengar seperti sepatah kata paling indah hari ini.
Barisan kalimat selanjutnya membuka kembali samar memori.
"Gimana kabarnya?" terdengar seperti sebaris kalimat paling menggemaskan hari ini.
Ingin kujawab panjang lebar tapi logika keburu menekannya.
Selanjutnya kamulah yang lebih banyak mengambil alih inisiatif pembicaran.
Bercerita panjang lebar tentang hidup barumu, lelaki barumu, dan tanpa ampun mengungkit masa lalu yang sudah berhasil aku lupakan sebelumnya.
Baru kali ini menjadi tempat berceritamu terasa sungguh ironi.
Perpaduan antara manisnya rasa senang dan pahitnya cemburu.
Kamu sajikan dalam sepintas rasa rindu yang memburu..
Barisan kalimat selanjutnya membuka kembali samar memori.
"Gimana kabarnya?" terdengar seperti sebaris kalimat paling menggemaskan hari ini.
Ingin kujawab panjang lebar tapi logika keburu menekannya.
Selanjutnya kamulah yang lebih banyak mengambil alih inisiatif pembicaran.
Bercerita panjang lebar tentang hidup barumu, lelaki barumu, dan tanpa ampun mengungkit masa lalu yang sudah berhasil aku lupakan sebelumnya.
Baru kali ini menjadi tempat berceritamu terasa sungguh ironi.
Perpaduan antara manisnya rasa senang dan pahitnya cemburu.
Kamu sajikan dalam sepintas rasa rindu yang memburu..
Minggu, 21 Agustus 2011
Selasa, 02 Agustus 2011
A Minute From You
would you sit here?, accompany me just for a while...
Duduk diam, itu saja..
Tidak perlu berkata-kata karena aku tau kamupun bingung..
Duduk diam, temani saja..
Tidak perlu terlalu lama karena aku tau kamupun bosan..
Disini saja,
Untuk sementara..
Jumat, 22 Juli 2011
Kamis, 21 Juli 2011
Jumat, 08 Juli 2011
Remember It
Momen terakhir yang kamu beri adalah ketika kamu tiba-tiba saja menarik tanganku, lalu sekonyong-konyongnya akupun ikut berlari-lari kecil mengikuti langkahmu. Itu adalah kenangan terakhir kita bertemu.
Sebelum berusaha saling melupakan.
Selasa, 29 Maret 2011
Fight your present in my head....
Kamu datang, tapi cuma datang sebagai bayang-bayang.
cuma datang sebagai kerinduan, sementara sosokmu tidak pernah menghampiri.
Aku bosan mikirin kamu, tapi aku juga gg punya jalan keluar agar gg mikirin kamu..
kalau saya boleh tanya..
"Bisa kamu pergi dan gg kembali?"
cuma datang sebagai kerinduan, sementara sosokmu tidak pernah menghampiri.
Aku bosan mikirin kamu, tapi aku juga gg punya jalan keluar agar gg mikirin kamu..
kalau saya boleh tanya..
"Bisa kamu pergi dan gg kembali?"
Rabu, 23 Maret 2011
Langganan:
Postingan (Atom)









