Tampilkan postingan dengan label Reportase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reportase. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Desember 2013

MK Lebih Tegas Dari Malaikat

“Dengan total dukungan dari PKS, PPP, PAN, Golkar dan PDIP artinya semua kekuatan politik pada waktu itu menerima saya. Bukan hanya tidak menolak melainkan mendukung hingga kekuatannya menjadi besar. Jadi, meskipun PKB hanya punya 4 kursi dari 44 anggota komisi III DPR, tetapi saya bisa mendapat 38 suara.” Begitulah hasil loby-loby yang dilakukan Mahfud MD ketika berniat mengajukan diri menjadi hakim MK, satu dari sekian banyak kisah yang diceritakan di buku ini.

Kontroversi Mahfud MD, buku yang sejatinya merupakan re-make dari On The Record Mahfud MD di Balik Putusan Mahkamah Konstitusi. Dituturkan dengan gaya bahasa Mahfud sendiri bab per bab terasa mengalir seolah anda mendengarkan penuturan langsung dari Mahfud MD.
Dimulai dari kisahnya saat awal mencalonkan diri sebagai ketua MK, sampai rasionalitas dan perdebatan dibalik keputusan yang diambil MK pada masa kepemimpinannya. Dibawah Mahfud MD, MK bertransformasi menjadi lembaga peradilan yang hasil putusannya sekalipun acap kali kontroversial, namun mampu memberikan rasa teduh dan adil bagi masyarakat.

Mengatasi persoalan DPT
Tengok salah satu contohnya ketika MK memutuskan perkara terkait kisruh DPT menjelang pilpres 2009. Pada saat itu pasangan  calon presiden dan wakil presiden Jusuf Kalla-Wiranto dan Megawati-Prabowo mengancam mundur dari pemilu apabila permasalahan DPT yang dianggap masih kacau dan tidak transparan tidak diselesaikan. Pada saat itu padahal pemilu Presiden tinggal 4 hari lagi, padahal dalam undang-undang kita tidak diatur mengenai pasangan yang mengundurkan diri secara sepihak. Kalau pemilu tetap dilaksanakan maka kemenangan calon yang tanpa lawan itu pasti akan menimbulkan chaos politik nasional, huru hara besar!

Namun disinilah jelinya MK, Tuhanpun seperti turut campur tangan. Saat itu terdapat penggugat bernama Refly Harun dan Maheswara yang menggugat ketentuan DPT. Bak angin surga MK segera memproses laporan tersebut, pemeriksaan pendahuluan dan sidang agenda putusan dilaksanakan dihari itu juga, selang beberapa jam saja. Padahal normalnya 14 hari setelah pemeriksaan awal baru dilaksanakan sidang putusan. 
Pada vonisnya MK mengabulkan gugatan pemohon, memutuskan bahwa KTP dan paspor boleh digunakan bagi calon pemilih yang namanya tidak tercantum dalam DPT. Alasan MK, DPT hanya instrumen sementara hak pilih adalah prinsip konstitusional. Oleh sebab itu yang prinsip tidak boleh dilanggar oleh masalah prosedural.
            Setelah  itu masyarakat mengganggap putusan MK itu sebagai terobosan yang menyelamatkan bangsa dan negara. Kekisruhan dan ketegangan mendadak reda.

Membuka rekaman cicak vs buaya
KPK bertempur mati-matian melawan korupsi, sayangnya aksi KPK ini tidak disukai oleh oknum penegak hukum lain sehingga pimpinan KPK coba dikriminalisasi. Strategi pelumpuhan KPK begitu gamblang, dengan menahan pimpinan KPK; kalau pimpinan KPK ditahan maka sidang KPK tidak quorum, alhasil karena tidak dihadiri utuh 5 pimpinannya maka putusan KPK dianggap ilegal. Alhasil dicari-carilah alasan penahan pimpinan KPK, Bibit-Chandra pun diperangkap dengan alasan yang mengada-ada.
Saat itu KPK mengklaim telah menyadap oknum-oknum yang berkepentingan dalam kasus ini, maka MK pun memerintah agar rekaman dibuka. Setelah rekaman dibuka jelaslah siapa yang benar-benar salah dan siapa yang coba dipersalahkan, dari hasil penyadapan, Komjen Susno Duadji memunculkan istilah cicak vs buaya lewat perbincangannya dengan Anggodo. Rekaman itu menunjukan begitu mudah seorang penegak hukum diatur-atur oleh mafia, memutarbalikan hitam jadi putih dan putih jadi hitam. Pembukaan rekaman pada sidang MK akhirnya membuat kasus ini terang benderang dan dianggap sebagai keberanian yang luar biasa.
 Mahfud MD secara tegas menginginkan rekaman sadapan KPK ini dibuka dipersidangan. Padahal KPK sendiri melalui Tumpak Hatorangan, ketua KPK sementara sempat ngeri membuka rekaman ini untuk publik, “Pak, jangan Pak. Ini nanti banyak dampaknya”. “Banyak orang marah nanti.” Begitu yang disampaikannya kepada Mahfud MD menjelang sidang MK. Namun MK tak bergeming.
Setelah rekaman dibuka dipersidangan Bibit-Chandra pun akhirnya bebas, namun tidak hanya itu MK juga menyelamatkan KPK dengan mengabulkan vonis uji materi atas pasal 32 UU KPK. Presiden pun sebagai bentuk dukungannya menerbitkan Perpu tentang Plt pimpinan KPK.

MK lebih tegas dari malaikat
Sepulang dari upacara pembukaan Muktamar NU 2010 di Bandara Makasar, Mahfud bertemu dengan Zainuttauhid, anggota DPR dari PPP hasil pemilu 2009.  Zainuttauhid ini menjadi anggota DPR karena menang perkara di MK mengenai ketentuan perolehan suara saat dirinya mencalonkan diri dulu. Zainuttauhid mengatakan bahwa selama berperkara di MK dia tidak menghubungi siapapun di MK, baik langsung maupun tidak langsung.
“Saya tidak berani menghubungi MK, karena MK lebih keras dari malaikat. Kalau malaikat masih bisa disuap, kalau MK tidak bisa”.
“Kalau minta tolong pada malaikat dan kita membaca salawat maka malaikat bisa terpengaruh dan menolong kita, tetapi MK tidak bisa disuap apapun, MK lebih tegas” sahutnya.

Demikianlah beberapa bab dari buku Kontroversi Mahfud MD, membawa kita memahami alasan dibalik putusan MK dan membuka harapan akan kembali bangkitnya kepercayaan kita pada sistem hukum dinegeri ini.

Selamat membaca.




Minggu, 16 Juni 2013

Catatan Kecil Pengajar Muda

Catatan Kecil Pengajar Muda
Udah lama sebenarnya pengen baca buku ini, tapi baru sempet (mampu) beli sekarang ini. Hehe

“Catatan Kecil Pengajar Muda” adalah kumpulan cerita dari 28 orang pengajar muda. Sebutan untuk anak-anak muda yang tergabung dalam Yayasan Indonesia Mengajar.

Anak-anak muda ini berani melawan mainstream kemapanan dengan mendedikasikan satu tahun hidupnya demi menuntaskan janji kemerdekaan “Mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Mereka dikirim ke berbagai pelosok negeri dimana sarana dan prasarananya kebanyakan jauh dari kata cukup. Disana mereka mengajar di SD lokal, berbaur dengan masyarakat setempat dan menyelami makna Indonesia selama setahun penempatan.


Yap “menyelamai makna Indonesia” adalah kata yang berhasil saya ramu setelah membaca buku ini. Menjadi Indonesia berarti memiliki berjuta-juta keragaman : bahasa, pulau, budaya. Menjadi Indonesia berarti satu dalam sejuta perbedaan : suku, agama, hingga warna kulit. Tapi keberagaman itulah yang justru berhasil kita satukan dalam sebuah kata sederhana namun sarat makna : Indonesia.

Dibalik kisah mengajar para pengajar muda di buku ini tersimpan catatan mengenai kondisi riil masyarakat dari ujung negeri di Sabang sampai ujung lainnya di Marauke.

Juga kisah mengenai rasa nasionalisme dari berbagai pelosok negeri. Tengoklah cerita seorang Pengajar muda di Fakfak tentang pengalamannya bersama Ibu Nun Patiran, guru SD ini bercerita mengenai pengalaman pahitnya yang harus mendayung perahu ke seberang pulau demi mendapatkan pendidikan.

“Suatu hari saya hendak bersekolah, perahu yang saya tumpangi bersama beberapa teman tiba-tiba terbalik, kami semua hampir tenggelam saat itu.”katanya mengenang. “Untung perahu kami masih belum terlalu jauh dari kampung saat itu sehingga Ayah dan Ibu saya masih sempat menolong.” Karena terlanjur kedinginan dan kebasahan Ibu Nun tak ingin melanjutkan perjalanan ke sekolah hari itu.

Tak dinyana sang Ayah berang dan menghardik “Kamong harus tetap sekolah! Bodoh itu harus berhenti di beta! Beta pu anak cucu semua tidak boleh ada yang bodoh lai!”

Termotivasi hal tersebut Ibu Nun mendedikasikan hidupnya untuk menjadi pengajar di desa dan apresiasi tertinggi bagi Ibu Nun adalah kala melihat anak didiknya sukses. “Saya merasa jerih payah saya terbayar saat melihat murid saya berhasil, ada yang jadi pejabat, bekerja sebagai guru, dokter, dan banyak lagi”

Masih ada banyak cerita lagi mengenai Indonesia yang bisa digali, semua dihadirkan dari kacamata sang pengajar muda selama diwilayah penempatan.

Tertarik membaca? Boleh pinjam buku saya asal dibarter sama buku lain juga yaa :p

  

Sabtu, 11 Februari 2012

Must Have Book

cover buku




"Kami sungguh menikmati kemiskinan kami seperti menikmati khayalan mengenai lezatnya opor ayam yang disiapkan sejak enam bulan sebelumnya itu.
Saya, waktu kecil, memang hanya punya satu celana pendek dan satu baju, tapi saya masih punya satu sarung! jangan remehkan kemampuan sarung ini. Dia bisa jadi apa saja. Mulai jadi alat ibadah, mencari rezeki, alat hiburan, fashion, kesehatan, sampai jadi alat memeras atau menakut-nakuti."
"Bagaimana dengan payudara saya? Tiap hari saya masih meraba-rabanya. Masih tetap besar, tapi sudah mulai mengencang. Dokter bilang tidak lama lagi juga akan kembali normal. Saya belum bisa memperkirakan apakah saya akan lebih senang dengan payudara saya yang asli. Atau justru sudah terbiasa nyaman dengan payudara seperti gadis yang menginjak remaja."


Begitulah gaya tulisan Dahlan Iskan! Lugas, ringan, kocak sekaligus tetap terasa berbobot. Buku Ganti Hati : Tantangan jadi Menteri ini di dalamnya justru tidak banyak bercerita tentang posisi baru Dahlan Iskan di Kementerian BUMN, namun lebih banyak bercerita tentang petualangannya untuk cangkok liver di China. Bab demi bab akan membawa anda "menghayati" proses perjalanannya mulai dari diagnosa, pemilihan Dokter hingga penyembuhan pasca operasi, yah menghayati! sengaja saya pilih kata itu karena memang nyatanya pembaca akan berimajinasi seolah-olah turut merasakan perjalanan beliau.

Membacanya anda akan hanyut oleh cerita-cerita tentang Pak DI kecil yang ternyata hidup cukup prihatin, kecanggihan dunia kedokteran saat ini, hingga kondisi Bangsa yang jadi perhatiannya. Inilah buku yang sangat plus-plus, membacanya seolah kita mendapati buku tentang kesehatan, humor, politik dan entrepreneurship. 

Enjoy your read!  :D

Sabtu, 04 Februari 2012

Bromo !

Kalau diceritain full version bisa panjang lebar meluber kemana-mana ntar ceritanya, jadi saya ceritakan sesingkat-singkatnya aja yaa. 

Intinya begini :

#Sebelum berangkat
A : Ke Bromo yuk
B : Ngapain?
A : Iseng aja, eh gg liat sunrise ding maksudnya.
B : Ayuk, kapan?
A : Berangkat besok (3/Feb/12) aja tengah malam.
A : Ok!
Dan kami pun berangkat tengah malam akhirnya.

#Tiba di Taman Nasional Bromo Tengger Sumeru, kami menghabiskan malam di Gunung Pananjakan yang merupakan puncak tertinggi di kawasan taman nasional. Sayang kabutnya lagi tebal jadi view-nya gg maksimal.
A : Lanjut ke Bromo gg?
B : Kabut tebal nih, gerimis juga. Balik aja rute gg save.
A : Ok, balik!
*Tiba di bawah cuaca udah cerah
A : Cerah ni udah, kabutnya juga udah turun kayaknya. Naik lagi yuk?
B : Ok! naik lagiiii..
What the hell brooo, itu udah capek-capek sampai bawah gilak! 
Trus kudu naik lagi? Ayok deh ==

#Sampai Bromo, setelah puas muter-muter.
A : Udah ni balik yuk.
B : Ok, pada laper gg si?
A : Ia laper ni. Ayo deh serang rumahnya Rila (konspirasi jahat sama si Fery)
B : Seraaang..!
Pulang melalui rute daerah Tumpang, sekaligus mampir dulu ke rumah Rila buat ishoma.

Note : Percakapan A dan B di atas adalah inti percakapan peserta tour yang penulis rangkum.


Yap jadi begitulah ceritanya perjalanan saya ke Bromo kali ini, sebenarnya bukan perjalanan pertama si karena hampir dua tahun lalu juga udah pernah kesana. But, it's still become a great moment. By the way, gg lengkap tentunya kalo gg pake gambar ya. So here are the picts :)
Berangkaaaat :)

Kedinginan

Tanda di Taman Nasional
View point di Pananjakan
Rila and Winar
250 anak tangga ke puncak Bromo

Ini di puncak Bromo loo
Kondisi kawah terbaru pasca erupsi terakhir 2011

 
Power Ranger

Taman Nasional Bromo Tengger Sumeru


 










Jumat, 04 November 2011

Korupsi

Isu korupsi telah menjadi masalah akut bangsa ini semenjak orde baru bergulir hingga pasca reformasi saat ini. Dari tahun ketahun jumlah kasus korupsi yang terungkap bukannya mengalami penurunan justru malah menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Korupsi yang dulu terpusat saat ini bahkan telah merambah kedaerah, tidak hanya dilakukan elit kekuasaan tapi bahkan oleh pegawai ditingkat paling bawah sekalipun. Hal ini merupakan tantangan yang harus bisa dijawab bangsa ini apabila ingin mengejar ketertinggalannya diberbagai bidang dari negara lain.

Saat ini sebagaimana yang bisa kita rasakan perangkat hukum konvensional (kejaksaan, kepolisian) masih jauh dari harapan publik, maka dari itu KPK hadir untuk menjadi solusi dalam pemberantasan korupsi. Namun di tengah jalan institusi ini justru dianggap "produk gagal" karena terbukti berhasil melaksanakan fungsi penindakan dan pencegahannya dengan efektif. Dan saat ekspektasi publik terhadap institusi ini meninggi KPK justru banyak mendapat serangan dari oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. kasus-kasus besar yang berhasil diungkap justru membuat koruptor menyerang balik, akhirnya kita bisa lihat perkembangannya saat ini bagaimana kewenangan yang menjadi nafas KPK justru berusaha dilucuti. Hal ini nantinya menjurus kepada pelemahan institusi bahkan mungkin pembubarannya.

Untuk itu mahasiswa yang katanya agen of control, sebagai golongan yang masih terjaga idealismenya berkewajiban secara moril untuk menjadi garda terdepan mengawal institusi ini. Hal ini sejalan dengan sikap aliansi-aliansi BEM nasional maupun daerah yang kami ikuti,  dalam hal dukungan mahasiswa terhadap proses pemberantasan korupsi.

Politeknik Negeri Malang sendiripun saat ini mengarah menuju BLU , yang berarti kemandirian dalam mengelola keuangannya. Nantinya akan dirasa perlu peran aktif mahasiswa dalam hal pengawasan keuangan dan kinerja. Hal ini semata-mata agar nilai luhur pendidikan dapat selalu terjaga.


Terakhir, harapannya agar kelak ketika kita semua, para generasi muda saat ini yang mengambil alih pimpinan negeri ini maka diharapkan kita tidak mengulangi kesalahan yang sama yang dilakukan oleh mayoritas pemimpin kita saat ini.

HIDUP MAHASISWA!!


#Dengan sedikit edit untuk menyesuaikan : Disampaikan sebagai sambutan dalam acara seminar dan training of trainer bersama KPK, di Aula Pertamina Politeknik Negeri Malang. 1-2 Nopember 2011.

Kamis, 27 Oktober 2011

Trafic Jam

Kemacetan di Jl. Sukarno Hatta
Ini macet yang saya hadapi setiap pagi sebelum berangkat kuliah. Gambar diambil pukul 06.45 wib. Kalau pengamatan saya pribadi macet ini disebabkan Jl. Soekarno Hatta dan Jl. Veteran yang memang merupakan daerah kampus, tercatat ada 4 kampus besar disepanjang jalan ini yaitu UM, UB, Politeknik Negeri Malang dan ITN. Belum termasuk juga ada sekitar 3 SMA/SMK di kawasan ini. 


Bayangkan kalau setiap pagi setengah saja dari mahasiswa kampus tersebut berangkat kuliah di jam yang sama? Tentu luar biasa kepadatan lalu lintasnya. Beberapa hari yang lalu sempat di uji coba trafic light di pertigaan jembatan Suhat depan kampus UB, hasilnya? Tambah macet gg karu-karuan, akhirnya sekitar pukul 4 sore trafic light di nonaktifkan dan belum diaktifkan lagi sampai sekarang, trafic light tersebut gugur di hari pertamanya bertugas.

Dalam skala Indonesia, negeri ini seringkali dibuat pusing dengan masalah lalu lintas, kota-kota besar menghadapi macet yang sangat mengganggu. Di Jakarta misalkan, (kata rekan saya) berangkat ke sekolah harus pukul 5 pagi kalau tidak ingin terlambat, itupun tetap dengan menghadapi kemacetan. Di Jatim sendiri icon kota metropolitan disandang Surabaya, walaupun belum seheboh Jakarta kemacetannya, beberapa waktu lalu sempat muncul usulan tol tengah kota oleh beberapa kalangan yang 'berkepentingan' untuk mengurai kemacetan di kota Surabaya. Yang kalau diwujudkan banyak warga yang akan tergusur, selain itu juga tol kan bersifat eksklusif, kendaraan tertentu saja yang boleh melintas. Untung walikotanya yang walaupun seorang perempuan tegas sekali menolak, sampai-sampai tidak mau hadir dalam mediasi yang diselenggarakan DPR kotanya.


Solusinya? Untuk jangka pendek tentu saja dengan manajemen lalu lintas yang tepat. Jangka panjangnya adalah bagaimana mengubah kebiasaan bangsa ini yang suka sekali menggunakan kendaraan pribadi. Penambahan ruas jalan tentu tidak mudah (kalau gg mau dibilang tidak mungkin). Selain cuma bisa dijadikan solusi sementara penambahan ruas jalan juga bisa secara tidak langsung merupakan insentif untuk masyarakat membeli kendaraan baru, yang ujung2nya juga berarti penambahan volume kendaraan dijalan, suatu saat macet lagi, begitu seterusnya. Jadi intinya adalah mengubah habit/kebiasaan kita dari yang gemar mengendarai kendaraan pribadi beralih ke kendaraan massal. "Tapi masalahnya kendaraan massal yang murah, aman dan nyaman belum ada, atau mungkin ada tapi sebatas di kota besar itupun terbatas". Nah ini persoalan lain, sayapun tidak punya jawabannya. 

Kembali ke lingkup Kota Malang, penyumbang kemacetan pada jam-jam tertentu itu bisa dibilang 70% adalah mahasiswa. Solusi konkretnya barangkali perlu dihidupkan budaya bersepeda di lingkungan kampus, UI punya program eco campus yang menyediakan peminjaman sepeda gratis tersebar di penjuru kampus, cukup dengan kartu mahasiswa sepeda itu bisa dipakai sesuka hati asalkan masih di area kampus. Setau saya ITS pun menyusul dengan program tersebut beserta larangan membawa kendaraan bermotor didaerah-daerah tertentu. Bayangkan kalau seisi kampus menggunakan sepeda pancal, tanpa kendaraan bermotor yang bersliweran di area kampus!! tentu nyaman sekali rasanya, badan sehat, udara sejuk, dan mengurangi global warming juga. 

"Tapi kan capek, panas, gg praktis, apalagi kalau jarak tempuhnya jauh" hemm sekali lagi ini masalah kebiasaan. :D


Minggu, 31 Juli 2011

Kereta Api Ekonomi (Part 1)

Kereta Api Ekonomi -->
old way to trip on java island


Perjalanan ke Bandung kemarin harus kami tebus dengan lebih dari 20 jam perjalanan. Gg ada masalah sama waktu tempuhnya, yang bikin antusias itu dengan apa kami berempat menempuhnya. Yak, dengan kereta api. Kebetulan ada suatu kegiatan yang diadain di Bandung, dan karena dana yang kudu di press, maka pilihan yang paling logis supaya bisa hemat adalah menumpangi kereta api, dan supaya bs lebih hemat lagi, maka kereta api yang kami pilih adalah kelas ekonomi.

Dari Malang sebenarnya ada kereta yang langsung ke Bandung, KA Malabar. Tapi karena harga tiketnya yang sekitaran 120ribuan untuk kelas ekonomi saja masih dirasa terlalu mahal, maka jelas opsi naik Malabar dicoret. Akhirnya diputuskan naik KA Kahuripan, masalahnya KA ini startnya dari Kediri. Perjalanan ke Bandungpun dimulai dari Malang ke Kediri, dengan kereta api ekonomi yang kami tebus seharga Rp. 5.500,00. Perjalanan ke Kediri yang biasanya cukup 2 jam perjalanan dengan sepeda motor harus ditempuh selama 4 jam. 

Tapi lamanya perjalanan ini justru merupakan suatu pengalaman, diatas kereta dari Malang-Kediri yang penuh sesak kami terpaksa berdiri selama hampir setengah perjalanan sebelum akhirnya mendapat tempat duduk. Rekan seperjalanan yang biasa naik kereta bilang ini biasa. Diatas rangkaian gerbong yang berjalan banyak orang yang menggantungkan hidupnya, pedagang asongan menjajakan dagangannya diatas kereta yang berjalan, menembus kerumunan penumpang yang berdiri berdesak-desakan dilorong gerbong. Berusaha melewati kerumunan sambil terus meneriakan dagangan mereka. Berbagai macam barang dijual diatas kereta, mulai dari aneka jajanan, minuman, koran, buku, souvenir, sampai pulsa elektrik. Ada pria-wanita, tua-muda, sampai sehat maupun cacat yang berusaha hidup dari gerbong-gerbong tua kereta ini.

Sampailah di Kediri, perjalanan selanjutnya dengan KA Kahuripan. Kereta berongkos Rp. 35rb ini menjadi persinggahan selama 15 jam menuju Bandung. Alhamdulillah di kereta ini kami mendapat nomor kursi. Lelap dikereta ketika terbangun sekitar pukul 24.00 ternyata kereta sudah penuh sesak, di lorong-lorong kereta  berselonjoran penumpang yang tidak mendapat kursi, para pedagang asongan dikereta saya perhatikan sedari pagi selalu aktif menjajakan dagangannya, 24 jam!! tak peduli kereta sepi ataupun penuh sesak, tak perduli siang hari maupun dini hari ketika sebagian penumpang terlelap mereka tetap aktif berkeliling gerbong. Sedikit pelesetan (tanpa mksud melecehkan) kalau bisa diibaratkan mereka itu seperti pramugari, yah pramugarinya kereta api.

Bandungpun menyambut kami pukul 5 am. Perjalanan hampir 24 jam sekaligus pengalaman pertama saya naik kereta. Lelah badan rasanya tapi perasaan antusias mengikuti kegiatan rakernas dan juga menyusuri Kota Bandung memaksa saya untuk melupakannya. Dan akhirnya stasiun Kiaracondongpun menjadi start catatan saya selama di Bandung. 

So, welcome in Paris Van Java

Sabtu, 26 Maret 2011

Malam di sepanjang jalan..

Saya menjumpai seorang narasumber yang sangat menarik ketika jalan-jalan di seputaran pasar besar pada malam hari, Emperan toko yang saat itu sudah mulai tutup rupanya merupakan tempat yang strategis untuk tidur dan beristirahat bagi sejumlah penghuni jalanan.
Memarkir sepeda motor di alun2 lalu berjalan kaki menyebrang kearah pasar besar saya menjumpai seorang bapak tua yang sedang mencoba beristirahat, penampilannya lusuh, disebelah kirinya terdapat karung putih yang mungkin digunakannya untuk memulung pada siang harinya, didepannya terdapat sebuah kaleng tergeletak berisi beberapa keping recehan. Dari raut wajahnya awalnya saya menduga usianya sekitar 55-60 tahun.
  Bapak itu agak terusik dengan kehadiran kami yang asyik bercengkrama hanya beberapa meter dari tempatnya ingin beristirahat, kepalang tanggung sekalian saja kami menyapa Bapak tersebut, berbasa-basi dengan memberikan receh rupiah dikaleng yang terdapat didepannya  kami mencoba menyapanya. Bapak tersebut menjawab hangat sapaan kami, sepertinya beliau cukup bersahabat untuk diajak ngobrol, maka semakin beranilah kami mendekatinya, saya duduk tak beralas didepan Bapak tersebut, rekan saya duduk di sebelah kirinya, coba membuka pembicaraan pertanyaan-pertanyaan ringan pun meluncur sebelum lebih jauh bertanya-tanya.
 Seiring makin sepinya jalanan saat itu tak terasa sudah cukup lama kami bercengkrama,  kalau saya tidak salah dengar Pak Nano namanya, asalnya dari Magelang jawa tengah. Beliau cukup senang kami ajak bicara, buktinya beliau begitu antusias bercerita tentang kehidupannya, lama mungkin beliau tidak bercengkrama dengan orang lain. Yang membuat saya kaget adalah ketika beliau berujar bahwa umurnya saat ini telah menginjak 82 tahun, sama sekali tidak menyangka, kulit wajahnya masih cukup kencang, keriput tidak banyak menggerus wajahnya, pergerakannya masih lincah, ingatannya masih baik saat bercerita tahun-tahun penting dalam perjalanan hidupnya semua masih terekam jelas diingatannya, pendengarannya pun masih tajam diusianya yang sepuh sehingga kami tidak terlalu banyak mengulang pertanyaan, suaranyanya masih terdengar jelas dan tegas, maka dibuat semakin antusiaslah kami mendengar celotehannya.
Kami larut dalam cerita-cerita beliau, Pramuniaga toko dengan dandanan cantiknya yang hendak pulang saat melewati kamipun sesekali terlihat melempar tatapan aneh, mungkin mereka heran melihat beberapa pemuda tanpa sungkan duduk di trotoar sembari bercengkrama dengan pengemis. Sesekali kami dibuat tertawa saat beliau memamerkan cerita-cerita lucunya. masa mudanya yg cukup berliku-liku, sempat menjadi pekerja sebuah kebun karet di Medan pada masa colonial Belanda, kemudian berpindah-pindah kota mulai dari SawahLunto di Sumatera Barat, hingga pada tahun 50’an bekerja di sebuah pabrik kerupuk di daerah Purwosari.
Serempetan peluru dari colonial Belanda saat berada di Medan dulu pernah beliau rasakan, tanpa ragu beliau memamerkan luka robek di dada dan panggulnya, bukti sisa-sisa digdaya masa mudanya yang sudah melewati berbagai zaman, mulai zaman penjajahan hingga zaman modern saat ini. Dari seorang wanita pemulung yang bersebelahan dengan kami juga kami tahu ternyata beliau seorang seniman, dulu saat tangannya masih fasih melukis (sejak tahun 62 tangan kanannya gemetar) beliau senang ke daerah Buring untuk memamerkan lukisannya.
Sayang malam makin larut hingga kami harus berpamitan. Mengakhiri obrolan malam ini, smg jalanan menjaganya, memberi rasa nyaman yg tidk didapat dari sebuah rumah. :D